Cara kerja dan Cara hidup

18.Mar.2020 15:54

Bagaimana jika bekerja dari rumah?

Cerita tentang suami yang mengikuti istrinya yang sekolah di luar negeri, dan menyadari “cakupan cara hidup” setelah menjalankan remote work terbatas selama 1 tahun di Inggris

Selama ini, “Pindah sekeluarga untuk mengikuti suami yang ditugaskan di luar negeri” adalah hal yang umum bagi orang yang bekerja di perusahaan Jepang. Tetapi “Suami mengikuti istri yang sekolah di luar negeri” adalah hal yang jarang terjadi.

Orang yang memutuskan untuk melakukan hal tersebut adalah Mr. Ryosuke Watanabe yang bekerja di VOYAGE GROUP Inc. Beliau adalah remote worker yang tinggal di Inggris di kota Cambridge yang berada di bagian timur England, untuk bekerja di kantor pusat yang berada di Tokyo, dengan batas waktu sekitar 1 tahun. Alasannya adalah “Untuk mengikuti istrinya yang sekolah di luar negeri”.

Mengapa Mr. Watanabe memutuskan untuk bekerja dengan cara seperti ini? Yurina Nagai dari bagian editor Cybozu Style yang tinggal di Perancis, Paris melakukan liputan secara remote untuk berbincang-bincang dengan beliau.

Tidak mau jika “hanya bisa memilih salah satu”, tetapi inginnya memilih keduanya untuk maju

  • Nagai

    Kami yang tinggal di Inggris dan Perancis ini bisa terhubung karenya adanya cuitan tentang artikel remote work, ya?

  • Watanabe

    Betul. Ms. Nagai memberikan komentar kepada cuitan yang saya tulis.

Cuitan Mr. Watanabe. Berkat cuitan ini, saya jadi mengetahui bahwa ada orang seperti saya, yang bekerja sebagai remote worker dari luar negeri untuk perusahaannya yang berada di Tokyo.

  • Nagai

    Maaf tiba-tiba mengubungi anda. Begitu membaca “Ingin ngobrol”, saya jadi langsung bertindak (sambil tertawa).

  • Watanabe

    Tidak apa-apa (sambil tertawa).

  • Nagai

    Saya terkesan sekali dengan istilah “Menemani istri yang belajar ke luar negeri”, sehingga ingin sekali mendengar ceritanya.

  • Watanabe

    Terima kasih.

  • Nagai

    Menurut saya, wajar jika skala prioritas pekerjaan akan berubah sesuai dengan babak kehidupan. Oleh karena itu, saya ingin agar bisa “memilih cara kerja sambil bekerja di perusahaan”, dan saya rasa Mr. Watanabe adalah orang yang telah mewujudkan hal tersebut.

  • Watanabe

    Saya tidak tidak mau jika “hanya bisa memilih salah satu”, tetapi inginnya memilih keduanya untuk maju. Salah satunya adalah dengan cara kerja yang disebut remote work.

  • Nagai

    Begitu, ya. Saya pun hingga saat ini tidak dapat membuang mimpi untuk “Hidup di Paris” dan “Ingin mengerjakan pekerjan yang menantang”.

  • Watanabe

    Tidak hanya di luar negeri, tetapi saya merasa bahwa alangkah baiknya jika “bisa memilih cara kerja” yang disesuaikan dengan tujuan dan kondisinya masing-masing, bisa dianggap sebagai hal yang umum.

Karena tidak ada aturan remote work, ketika berkonsultasi saya mengatakan “Ingin berhenti dari perusahaan dan pergi ke Inggris”

  • Nagai

    Kapan Mr. Watanabe mulai menjalankan remote work di Cambridge?

  • Watanabe

    Pada bulan Oktober 2017. Rencananya saya akan tinggal di sini sampai bulan Agustus tahun ini.

  • Nagai

    Ngomong-ngomong, mengapa menjalankan remote work di luar negeri?

  • Watanabe

    Pemicunya adalah, perusahaan tempat istri saya bekerja memiliki aturan untuk memberikan bantuan beasiswa ke luar negeri. Sejak awal istri saya memang ingin belajar di luar negeri, sehingga kami merasa “tidak ada salahnya untuk mencoba”.

Mr. Ryosuke Watanabe. Setelah menyelesaikan masa internship, menjadi fresh graduate dan diterima di VOYAGE GROUP. Kemudian setelah melakukan renewal keseluruhan situs pertukaran poin yang bernama “Pex” dan membuat media dengan model flow, beliau mempromosikan bisnis yang memberikan solusi terkait area digital perusahaan di VOYAGE MARKETING Inc. Pada bulan Oktober 2017 pergi ke Inggris dan saat ini sedang menjalankan remote work.

  • Nagai

    Begitu, ya.

  • Watanabe

    Jika istri saya pergi, saya juga harus pergi…. Akhirnya saya berkonsultasi dengan atasan dan diizinkan untuk menjalankan remote work untuk waktu terbatas selama 1 tahun.

  • Nagai

    Apakah sejak dulu Mr. Watanabe juga berpikir ingin tinggal di luar negeri?

  • Watanabe

    Tidak. Di VOYAGE GROUP memang ada pekerjaan yang berhubungan dengan luar negeri, tetapi saya hanya memiliki pemikiran yang mengambang seperti “Enak juga ya kalau suatu saat bisa merasakan bisnis di luar negeri”.

  • Nagai

    Jadi begitu, ya. Ngomong-ngomong, apakah VOYAGE GROUP memang mengizinkan untuk melakukan remote work?

  • Watanabe

    Sebenarnya tidak boleh. Di perusahaan saya, tidak diizinkan untuk menjalankan remote work, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Maka dari itu, saya konsultasi dengan atasan dan mengatakan “Ingin berhenti dari perusahaan dan pergi ke Inggris”.

  • Nagai

    Luar biasa….. Sudah siap sampai sejauh itu, ya?

  • Watanabe

    Betul (sambil tertawa)

  • Nagai

    Bagaimana reaksi atasan anda?

  • Watanabe

    Tentu saja, pada awalnya terkejut dan mengatakan “Apa!?”. Tetapi saya tidak bermaksud mengundurkan diri dengan perasaan yang negatif, sehingga saya jelaskan latar belakang dan kejadiannya secara baik-baik. Hasilnya, beliau mengatakan “Kalau begitu, mari kita siapkan lingkungannya agar bisa tetap bisa dikerjakan dari luar negeri”.

  • Nagai

    Atasan anda memiliki pola pikir yang sangat fleksibel, ya.

  • Watanabe

    Betul sekali. Saya benar-benar berterima kasih. Meskipun sejak awal saya sudah berpikir bahwa VOYAGE GROUP pasti memiliki lingkungan yang bisa mendengarkan usulan tentang pembuatan sistem baru.

  • Nagai

    Mungkin mirip dengan Cybozu, ya. Saya sempat mengundurkan diri dari perusahaan dan datang ke Paris. Tetapi kemudian mengajukan permohonan langsung kepada Mr. Aono selaku CEO untuk “kembali bekerja dengan menjalankan remote work dari Paris”, dan disetujui. Saya juga memiliki asumsi sendiri bahwa “Kalau Mr. Aono pasti mau menerimanya” (sambil tertawa).

Yurina Nagai. Tinggal di Paris, Perancis. Setelah menjadi fresh graduate diterima di Cybozu, dan bekerja di departemen pemasaran selama 7 tahun. Di bulan Maret 2016 berhenti dari pekerjaannya untuk memanfaatkan aturan cuti pengembangan diri dan pergi ke Perancis yang menjadi idamannya. Saat ini bekerja di bagian editor Cybozu Style sambil tinggal di Paris untuk menyampaikan “Keberagaman” dan “Cara hidup” yang dirasakan di Paris. Sedang mencoba untuk menjalankan remote work seorang diri dari Perancis.

  • Watanabe

    Jika kita memiliki kepercayaan bahwa “Perusahaan mau mendengarkan pembicaraan kita”, maka akan mudah untuk mengusulkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, ya.

Secara global, pilihan untuk “mengikuti istri” adalah hal yang umum

  • Nagai

    Saya juga ingin menanyakan reaksi orang-orang terhadap keputusan yang diambil Mr. Watanabe.

  • Watanabe

    Silakan.

  • Nagai

    Setelah diputuskan akan pergi ke Inggris, bagaimana reaksi di internal perusahaan?

  • Watanabe

    Yang laki-laki terkejut seperti “Apaa!?”, tetapi yang perempuan lebih santai, seperti “Oh, begitu ya” (sambil tertawa)

  • Nagai

    Reaksi yang diberikan sangat berbeda, ya? (sambil tertawa)

  • Watanabe

    Karena bagi laki-laki, “mengikuti istri” bukanlah hal yang populer. Ada juga yang menanyakan “Seandainya tidak bisa bekerja secara remote, kamu mau bagaimana?”.
    Sedangkan untuk perempuan, ada yang pernah mengambil cuti membesarkan anak, sehingga bagi mereka “tidak kembali selama 1 tahun” bukanlah hal yang aneh. Mereka cukup santai dan mengatakan “Sampai bertemu tahun depan, ya”.

  • Nagai

    Orang perempuan juga bermacam-macam, tetapi apakah orang laki-laki juga akan merasa khawatir bahwa mungkin “ini bisa menghambat karir selama 1 tahun”?

  • Watanabe

    Saya rasa begitu. Tetapi saya berpikir bahwa remote work ini bukannya menghambat karir, tetapi sebagai pengembangan.

  • Nagai

    Secara pribadi, keputusan untuk “mengikuti istri” adalah hal yang sangat keren.

  • Watanabe

    Setelah mendengarkan cerita dari orang yang sekolah di Cambridge, ternyata hal seperti ini cukup banyak. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa “Untuk orang Jepang, mungkin ini yang pertama kalinya”, ya?

  • Nagai

    Selama ini kejadian yang sering terjadi adalah “Istri berhenti dari pekerjaan untuk mengikuti suaminya yang pindah tugas”. Jika orang-orang bisa lebih mengetahui bahwa “tetap bisa melanjutkan karir meskipun bekerja secara remote work” dan “bisa mempelajari hal baru” tanpa mempedulikan laki-laki atau perempuan, pilihan seperti yang diambil oleh Mr. Watanabe pasti akan populer.

  • Watanabe

    Saya juga merasa begitu. Setelah datang ke Inggris, kesempatan untuk belajar jadi semakin banyak.

Suasana pertukaran bahasa antara mahasiswa Itali dan mahasiswa New Zealand yang belajar bahasa Jepang di universitas Cambridge. Terkadang Mr. Watanabe juga ikut dalam mata pelajaran bahasa Jepang dan mengadakan diskusi.

  • Nagai

    Di luar negeri, banyak juga orang yang sekolah pascasarjana sambil bekerja, ya? Kalau di Jepang, pola pikir yang umum adalah “Belajar cukup sampai universitas saja” dan “Kerja ya kerja”.

  • Watanabe

    Betul sekali. Di sini, orang di atas 30 tahun yang sekolah pascasarjana bukanlah hal yang aneh. Saya seperti merasakan “cakupan hidup yang luas” dan cara menilai saya juga jadi berubah.

  • Nagai

    Apakah kehidupan pribadi anda juga berubah?

  • Watanabe

    Iya, berubah. Ketika tinggal di Tokyo, saya dan istri kesannya “hanya bekerja saja”, tetapi setelah di Inggris lebih banyak waktu yang kami habiskan bersama. Setelah pelajaran selesai, istri saya akan pulang sekitar jam 5 sore. Waktu setelah itu adalah milik kami berdua.

  • Nagai

    Indah sekali. Apakah gaya hidup yang mementingkan waktu bersama keluarga seperti ini bisa dilanjutkan meskipun pulang ke Jepang?

  • Watanabe

    Saya ingin melanjutkannya. Meskipun awalnya saya hanyalah orang yang memikirkan pekerjaan, tetapi pada akhirnya saya menyadari bahwa waktu bersama keluarga dan input dari kehidupan sehari-hari yang kelihatannya tidak ada apa-apanya ternyata penting. Saya ingin agar keseimbangan ini bisa terjaga dengan baik, di kehidupan bermasyarakat di masa yang akan datang.

Dengan mempersempit cakupan pekerjaan, saya jadi bisa mengejar tema lebih dalam

  • Nagai

    Saat ini, anda menjalani hidup dengan jadwal kegiatan seperti apa?

  • Watanabe

    Pada dasarnya saya menyesuaikan dengan waktu di Tokyo. Jika dirubah ke waktu Inggris, saya bekerja selama 8 jam dari jam 4 pagi hingga jam 12 siang.

  • Nagai

    Dari jam 4 pagi, ya…..

  • Watanabe

    Betul. Ketika akan memulai remote work, saya yang mengusulkan jam kerja ini kepada perusahaan.

  • Nagai

    Begitu, ya. Sebagai orang yang mengajukan permohonan kasus khusus dan untuk menunjukkan keseriusannya, kita perlu untuk berinisiatif untuk mengusulkan sesuatu, ya? Saya sangat setuju sekali.

  • Watanabe

    Betul sekali.

  • Nagai

    Tetapi apakah tidak berat untuk bekerja dari jam 4 pagi?

  • Watanabe

    Lama-kelaman akan terbiasa (sambil tertawa). Setiap hari bangun jam 3 pagi dan tidur sekitar jam 8 malam. Jika harus makan malam bersama dengan teman yang berada di sini, saya akan pulang lebih awal.

  • Nagai

    Anda mengatur waktu dalam kehidupan sehari-hari, ya.

  • Watanabe

    Sebagian besar pekerjaan yang saya lakukan adalah sama dengan yang saya tangani ketika berada di Jepang, sehingga tidak ada masalah. Jika harus berkomunikasi atau bertemu langsung dengan client, saya akan menyerahkannya kepada para anggota yang berada di Jepang, dan saya bekerja di balik layar dengan merangkum kebijakan tersebut atau membuat dokumen dsb.

  • Nagai

    Dalam menjalankan remote work, banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dalam kesendirian karena kita bekerja seorang diri. Saya sempat mengalami kesulitan menghadapi hal tersebut. Bagaimana dengan Mr. Watanabe?

  • Watanabe

    Dalam kasus saya, ada kalanya kesendirian tersebut malah membawa nilai plus di pekerjaan.

  • Nagai

    Kesendiriannya malah membawa nilai plus?

  • Watanabe

    Betul. Ketika berada di Jepang, sebagai orang yang bekerja di bisnis perencanaan, saya banyak berhubungan dengan pemasaran dan marketing. Untuk saat ini, dalam arti yang positif saya jadi lebih bisa fokus kepada tema dan bisa memperdalamnya.

  • Nagai

    Maksudnya karena cakupan pekerjaannya berkurang, jadi lebih bisa memperdalam materi tersebut, ya?

  • Watanabe

    Betul sekali. Secara fisik memang ada pekerjaan yang tidak dapat ditangani, tetapi saya jadi lebih bisa memikirkan tema satu per satu dengan lebih mendalam. Mungkin inilah kegunaan dari remote work itu sendiri.

  • Nagai

    Manfaat yang bagus, ya. Kalau begitu, jika diizinkan apakah anda akan terus menerapkan cara kerja seperti ini?

  • Watanabe

    Kalau itu saya tidak mau. Lebih baik saya mencari pekerjaan di sini (sambil tertawa). Kecuali untuk menjalankan bisnis di sini, saya baru mau.

  • Nagai

    Baiklah. Tetapi kenapa anda tidak mau?

  • Watanabe

    Karena ini adalah layanan yang ditujukan untuk Jepang, sehingga jika tidak mengetahui pergerakan pasar di Jepang, akan menjadi penghambat. Oleh karena itu, saya merasa bahwa batasan waktu yang hanya 1 tahunlah yang dapat menjaga keseimbangan antara input dan output, saya dan tim, dan untuk semua hal yang terkait.

  • Nagai

    Begitu, ya.

  • Watanabe

    Tetapi jika ada remote work untuk batasan waktu tertentu yang dapat dikerjakan di tempat lain, saya ingin melakukannya!

Meskipun “Rasanya telah dilakukan dengan baik”, tetapi kekhawatiran tetap ada

  • Watanabe

    Walaupun begitu, ada kalanya saya merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan Jepang.

  • Nagai

    Saya bisa mengerti.

  • Watanabe

    Misalnya saya tidak bisa hadir dalam rapat yang bertujuan untuk “melakukan brainstorming bersama-sama”, dan sulit untuk ikut serta dalam pekerjaan yang melibatkan pihak di luar perusahaan. Jadi ada kekurangan seperti itu.

  • Nagai

    Memang sulit jika “harus tetap sama seperti saat bekerja di kantor Tokyo”, ya.

  • Watanabe

    Betul. Saya benar-benar merasa seperti itu.

  • Nagai

    Mungkin ini juga yang membuat remote work menjadi sulit, yaitu “Bagaimana caranya mendapatkan penilaian?”. Apakah anda pernah kesulitan menghadapi hal tersebut? Saya sempat berpikir bagaimana caranya untuk mempromosikan diri saya dalam komunikasi yang terbatas ini.

  • Watanabe

    Memang butuh kreativitas, ya. Kalau saya, caranya dengan membagikan terlebih dahulu gambaran mengenai hasil pekerjaan saya dengan detil, dan sering mengirimkannya.

  • Nagai

    Sebenarnya waktu berada di Jepang juga sudah seperti itu kan, tetapi apakah frekuensinya berubah?

  • Watanabe

    Frekuensinya meningkat secara signifikan. Karena hal yang sebelumnya kurang-lebih bisa diputuskan dalam pembicaraan pun, akan sulit jika disampaikan melalui teks dari jarak jauh. Jadi ketika di Jepang, saya berkonsultasi dengan atasan saya untuk membuat format baru untuk remote work, yang dapat berbagi hasil pekerjaan dan mengontrol progres.

  • Nagai

    Begitu, ya. Penting juga untuk meninjau kembali format yang digunakan agar dapat menyesuaikan perubahan cara kerja, ya.

  • Watanabe

    Meskipun saya juga masih terus bertanya kepada diri sendiri “Benar tidak sih yang saya lakukan?”, tetapi secara pribadi saya memiliki rasa bahwa “Ini sudah dilakukan dengan baik”. Saya yakin bahwa 100% sudah memenuhi apa yang diminta. Tetapi karena dijalankan secara remote, mau tidak mau kesempatan mendapatkan feedback menjadi lebih sedikit, sehingga tetap ada rasa khawatir.

Suasana tempat kerja di rumah. Saat ini tinggal di asrama yang dikelola oleh universitas, sehingga lingkungan WIFI sangat memadai dan tidak ada hambatan dalam menjalankan remote work.

  • Nagai

    Jadi memang ada perbedaan dengan komunikasi yang bertemu langsung, ya….

  • Watanabe

    Kalau boleh jujur, saya tidak ingin berada di posisi yang menilai remote work (sambil tertawa).

  • Nagai

    Sebenarnya jika ada indikator secara kuantitatif, akan mudah untuk mengetahuinya. Tetapi agar bisa dinilai apakah yang dilakukan sudah sesuai dengan target, transmisi dan komunikasi harian menjadi hal yang penting, ya?

  • Watanabe

    Betul sekali. Karena ini adalah remote work, maka melihat diri sendiri secara objektif dan memikirkan bagaimana orang lain melihat diri kita menjadi hal yang semakin penting.

Kesadaran internasional saya terpupuk melalui “Budaya berpasangan”

  • Nagai

    Apakah ada kelebihan yang anda rasakan setelah tinggal di Inggris?

  • Watanabe

    Dalam hal “Memupuk kesadaran internasional” yang menjadi tujuan awal saya, memang jauh berbeda jika dibandingkan saat tinggal di Jepang. Sedangkan untuk kemampuan bahasa Inggris saya yang awalnya setara dengan level ujian universitas, sekarang saya les dengan guru dan belajar bahasa Inggris setiap minggu, sehingga sudah bisa melakukan percakapan sehari-hari.

  • Nagai

    Apakah anda juga memiliki banyak kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang lokal?

  • Watanabe

    Iya. Kurikulum yang diambil oleh istri saya di universitas Cambridge diperuntukkan untuk orang dewasa, sehingga banyak event yang bisa kami ikuti bersama. Di situ kami tidak hanya berbicara dengan orang Inggris, tetapi bisa berbicara juga dengan orang dari berbagai negara.

  • Nagai

    Di Perancis juga ada “Budaya berpasangan” yang mengajak pasangan atau partner untuk ikut serta dalam setiap event.

  • Watanabe

    Saya mengerti. Budaya yang bagus, ya. Saya merasa bahwa secara keseluruhan, kesempatan untuk memperluas komunitas menjadi lebih besar jika dibandingkan di Jepang. Selain itu, saya juga merasakan kelebihan tinggal di luar negeri terkait dengan pekerjaan utama saya sebagai perencanaan bisnis, yang memikirkan cara mengembangkan situs web dan bisnis.

  • Nagai

    Apakah lebih mudah dijalankan jika di luar negeri?

  • Watanabe

    Betul. Saya menemukan banyak layanan situs web yang hanya bisa diketahui setelah tinggal di sini. Bisa berhubungan langsung dengan contoh kekinian seperti ini merupakan kelebihan langsung yang bisa saya peroleh.

Bisa mengejar apa yang diinginnkan sambil melanjutkan karir di perusahaan

  • Watanabe

    Ngomong-ngomong, beberapa waktu lalu junior saya yang telah 3 tahun bekerja di perusahaan berkunjung ke sini.

  • Nagai

    Wah, senang sekali ya?

  • Watanabe

    Iya. Saya sangat senang dan bercerita banyak mengenai cara kerja dan kehidupan yang saya jalani sekarang.

  • Nagai

    Reaksinya bagaimana?

  • Watanabe

    Dia mengatakan “Wah, ternyata perusahaan kami bisa bekerja dengan cara seperti itu, ya!”. Anak-anak muda tidak menyangka bahwa perusahaan cukup fleksibel untuk menjalankan cara kerja seperti itu.

  • Nagai

    Mungkin cara hidup Mr. Watanabe telah memberikan banyak pengaruh kepada orang tersebut, ya.

  • Watanabe

    Dia juga mengatakan bahwa “Saya juga akan berkonsultasi jika ada hal yang ingin saya lakukan”, sehingga saya percaya bahwa saya telah memberi pengaruh yang baik kepadanya (sambil tertawa). Karena ketika kita berpikir untuk mengganti pekerjaan, pasti ada latar belakang lain selain alasan “pekerjaannya berat” atau “tidak nyaman dengan hubungan antar manusia”,

  • Nagai

    Mungkin seperti Mr. Watanabe yang dulu, ya.

  • Watanabe

    Iya. karena itu saya ingin agar generasi muda bisa mengetahui bahwa “ada berbagai macam cara hidup”, dan merasakan bahwa ada kemungkinan untuk mengejar apa yang ingin dilakukannya sambil melanjutkan karir di perusahaan.

  • Nagai

    Kemungkinan yang diberikan oleh organisasi jadi semakin luas, ya.

  • Watanabe

    Saya rasa begitu. Dari pihak manajemen pun penting untuk mempersiapkan pilihan selain mengundurkan diri dan mengganti pekerjaan. Untuk itu, saya ingin menata agar lingkungan remote work di perusahaan saya bisa berjalan dengan baik.

  • Nagai

    Saya rasa para anggota juga akan lebih mudah untuk berkonsultasi dengan atasan yang seperti itu. Keberadaan orang-orang seperti itu di internal perusahaan juga bisa membawa perubahan yang besar, ya.

  • Watanabe

    Memang setiap orang memiliki pemikiran masing-masing terhadap cara kerja, dan saya juga merasa tidak masalah jika orang tersebut memilih untuk “hanya memikirkan pekerjaannya saja”. Tetapi perubahan babak kehidupan akan merubah keseimbangan pekerjaan dan kehidupan. Dalam hal saya, saya bisa menemukan sudut pandang baru dalam perubahan tersebut. Dan saya merasa alangkah baiknya jika pengalaman yang saya sampaikan bisa menjadi pemicu dalam bertindak.

Penulis : Shinsuke Tada / Dokumentasi : Sumiyo Ida dan Ryosuke Watanabe / Perencanaan dan penyunting : Yurina Nagai

Daftar tag

SNS Share