Cara kerja dan Cara hidup

26.Jun.2020 09:21

Tujuan hidup tidak untuk dicari. Kita hanya perlu melakukan yang terbaik terhadap apa yang harus dilakukan saat ini ── Kisah penulis buku Organisasi Teal yang menemukan pekerjaan terbaiknya

“Apa tujuan hidup saya?”

Tentu banyak orang yang menanyakan pertanyaan tersebut kepada dirinya sendiri dalam menjalani hidup.

Sebagai orang yang mencetuskan keberadaan organisasi baru dan sebagai penulis buku『Organisasi Teal』yang mengundang banyak perhatian, Mr. Frederic Laloux mengatakan bahwa “Baik individu maupun organisasi, tujuan yang harus diwujudkan adalah sesuatu yang dihadapkan ke kita. Bukan sesuatu yang dicari untuk ditemukan.

Bagaimana caranya agar individu dan organisasi bisa bertemu dengan “tujuannya”, dan langkah apa yang harus diambil untuk mewujudkannya? Mr. Laloux menceritakan caranya berhubungan dengan tujuan, sambil membagikan kisah hidupnya.

※Artikel ini dibuat berdasarkan ceramah Mr. Laloux pada tanggal 14 September di acara “Teal, Journey, Campus” yang diselenggarakan di kampus Tokyo Institute of Technology, Okayama.

Lulus dari universitas ternama dengan nilai terbaik. Pekerjaan di McKinsey juga menyenangkan. Tetapi tetap tidak tahu apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Setelah membaca buku 『Organisasi Teal』, banyak orang yang bereaksi terhadap cerita tentang “Di masa yang akan datang, tidak dibutuhkan lagi hierarki dan manajer di organisasi”.

Tetapi saya merasa bahwa hanya sedikit orang yang tertarik dengan tema sesungguhnya dari buku ini, yaitu “evolusi tujuan dan evolusi manusia”.

Oleh karena itu, saya sangat senang karena kali ini saya bisa berbicara mengenai tema “Tujuan hidup diri saya”.

Frederic Laloux. Penulis 『Organisasi Teal』. Setelah lebih dari 10 tahun terlibat dalam proyek reformasi organisasi di McKinsey, mendirikan usahanya sendiri sebagai Executive Advisor / Coach / Fasilitator. Melakukan penelitian terhadap organisasi di dunia mengenai model organisasi selama 2.5 tahun, dan menulis buku『Organisasi Teal』. Buku tersebut sudah diterjemahkan di 17 negara dan menjadi best seller dengan penjualan lebih dari 400 ribu eksemplar. Saat ini kesibukannya adalah sebagai coach dan mengadakan seminar untuk menyampaikan pesan dari buku yang ditulisnya, dengan tetap menomorsatukan kehidupan bersama keluarganya.

Saya membutuhkan waktu yang agak lama untuk menyadari bahwa “hidup memiliki tujuan”.

Saat masih anak-anak, saya adalah murid yang pintar dan berprestasi. Mungkin hal ini terdengar luar biasa. Tetapi saat itu saya hanya menjalankan apa yang diharapkan oleh orang-orang di sekitar saya, sehingga saya tidak pernah berpikir apa yang saya harapkan dan seperti apakah saya ini.

Setelah lulus sekolah menengah atas pun, saya tidak begitu memikirkan tentang tujuan hidup saya.

Kemudian saya diterima di universitas terbaik di Belgia. Di universitas tersebut ada aturan tidak tertulis yang diketahui semua orang, yaitu mahasiswa dengan prestasi terbaik akan bekerja di consulting firm (sambil tertawa), sehingga setelah lulus saya bekerja di McKinsey.

Pekerjaan di McKinsey sangat menarik dan menyenangkan. Tetapi di sisi lain, muncul sebuah pertanyaan di benak saya. Pekerjaan saya sebagai konsultan adalah meningkatkan keuntungan client yang sudah makmur seperti investment bank, menjadi lebih banyak lagi. Di situ saya jadi selalu berpikir, “Apakah pekerjaan ini ada artinya?”.

“Temukan hal yang benar-benar ingin dilakukan dalam waktu kurang dari 1/2 tahun, dan berhenti dari pekerjaan”

Awalnya saya berniat seperti itu. Tetapi karena tidak bisa menemukan apa yang ingin dilakukan, saya terus bekerja untuk 1/2 tahun berikutnya dan seterusnya. Sampai akhirnya setelah bekerja selama 10 tahun dan usia saya menginjak 33 tahun, saya bisa mengetahui apa yang ingin dilakukan dalam hidup ini.

Melalui pekerjaan saya sebagai konsultan, saya banyak melihat orang-orang yang menderita karena tidak bisa jujur kepada dirinya sendiri, dan mengenakan topeng di dalam organisasi besar yang bernama perusahaan besar. Dari situ saya menyadari bahwa “Saya ingin membantu orang-orang agar bisa berhadapan dengan hal yang benar-benar penting bagi diri sendiri, saat berada di dalam organisasi. Saya ingin bekerja sebagai coach.”.

“Saat ini, detik ini juga, apa yang seharusnya saya lakukan?”. Setelah menyadari pertanyaan ini, saya jadi terbebas dari perasaan tertekan.

Setelah menyampaikan akan berhenti dari McKinsey, orang-orang di sekitar saya berkata “Sulit dipercaya. Padahal karirnya sudah terjamin, tetapi malah mau jadi coach”. Tetapi saya pribadi merasa sangat bahagia. Karena akhirnya saya bisa menemukan tujuan hidup saya.

Tetapi setelah menjalani pekerjaan coach selama 4 tahun, di musim semi tahun 2011 saya mengalami shock yang sangat besar. Saya tiba-tiba diserang oleh perasaan yang sedih dan kehilangan tenaga untuk bekerja.
Mengapa saya jadi memiliki perasaan seperti ini, padahal sudah melakukan pekerjaan yang disukai?

Ibaratnya, selama ini pekerjaan saya adalah “membuat ruang seperti buih-buih kecil” agar orang-orang yang bekerja di perusahaan besar bisa mempertahankan kesehatan mentalnya. Tetapi setelah berkunjung ke kantor pusat perusahaan besar yang menjadi client, saya merasa bahwa semuanya terasa serba dingin, bagaikan dunia yang terbuat dari batu marmer dan kaca.

Ternyata tubuh saya sendiri yang memberikan sinyal bahwa “sudah tidak ingin lagi melanjutkan pekerjaan ini”. Kemudian saya sampaikan kepada client bahwa “Saya ingin mengundurkan diri dari semua pekerjaan yang saat ini masih berjalan”.

Kejadian berikutnya terasa seperti sihir. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya jadi mengerti pertanyaan yang benar yang harus diajukan kepada diri saya.

Pertanyaan itu adalah “Di detik ini juga, apa hal-hal yang berarti bagi diri saya?”.

“Di detik ini juga, apa hal-hal yang berarti?” memiliki makna yang berbeda dengan pertanyaan “Apa yang menjadi tujuan hidup?”.

Begitu saya menanyakan pertanyaan tersebut ke diri sendiri, saya langsung terbebas dari perasaan tertekan. Dan jawaban dari pertanyaan saya juga langsung keluar. Jawabannya adalah untuk mencari tahu “apakah dengan perspektif yang baru bisa membentuk organisasi yang bentuknya sama sekali berbeda dengan perusahaan besar? Atau dengan kata lain, menulis buku yang berjudul『Organisasi Teal』.

Tujuan bukan untuk dicari. Tetapi tujuan yang akan menemukan diri kita.

Pengalaman ini sama seperti yang sering dikatakan oleh para artis, yaitu “tiba-tiba muncul ide dari langit”. Bukan saya yang memilih ide tentang buku, tetapi ide yang memilih saya.

Sebenarnya saya tidak menceritakan hal ini ke banyak orang. Karena akan ada yang berkomentar “Apakah anda baik-baik saja?” (sambil tertawa).

Tetapi saya tetap menceritakannya kepada saudara sekalian, karena banyak orang yang salah paham tentang tujuan hidup.

Kebanyakan orang berpikir bahwa “Sekali menetapkan tujuan hidup, hal tersebut tidak akan berubah seumur hidup”. Kemudian saya tidak tahu apakah di Jepang juga ada, tetapi di Erpoa banyak sekali workshop atau seminar dengan topik “Menemukan Tujuan Hidup”. Tetapi saya sendiri sudah tidak mempercayai cara tersebut.

Yang saya percayai adalah pola pikir yang indah dari penulis Amerika yang bernama Parker J. Palmer. Beliau mengatakan “「Selama ini saya menjalani hidup karena berpikir bahwa diri saya sendiri yang menginginkan hidup seperti ini. Tetapi suatu saat, saya menemukan bahwa saya seharusnya menjalani 『kehidupan yang seharusnya diwujudkan melalui diri saya』.

Saat ini saya menjalani hidup dengan cara seperti itu. Tujuan hidup adalah hal yang sakral, sehingga tidak untuk ditemukan oleh diri kita sendiri. Yang harus dilakukan oleh saya adalah, sebisa mungkin terbuka dalam menjalani hidup, dan menyediakan ruang agar tujuan hidupnya bisa masuk. Dengan begitu, tujuan hidup tersebut bisa diwujudkan melalui saya.

Dalam proses menjalankan cara hidup yang seperti ini, saya menemukan bahwa ternyata intelektual tidak banyak bermanfaat. Tubuh kita yang akan menentukan hal-hal yang benar-benar harus dilakukan dan hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Jika kepala kita berpikir mengapa mengambil keputusan tersebut dan bagaimana hal tersebut akan berpengaruh terhadap kehidupan selanjutnya, itu semua terjadi setelah diputuskan oleh tubuh kita. Setelah menjalankan cara hidup seperti ini, saya merasa hidup selama 10 tahun terakhir berjalan dengan sangat lancar.

Ketika bekerja di McKinsey, kepala saya penuh dengan pikiran “harus hidup seperti apa, ya?”, “tetapi mengapa saya tidak bahagia, ya”.

Tetapi saat ini, saya menunggu apa yang dikatakan oleh kehidupan dan setelah mendengar suaranya, saya hanya perlu berbuat yang terbaik. Tujuan hidup tidak diikrarkan oleh diri kita sendiri, tetapi sesuatu yang dihadapkan ke kita. Kemudian kita hanya perlu mengikutinya.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk individu, tetapi berlaku juga untuk kehidupan organisasi.

Oleh karena itu, saya merasa aneh jika ada yang mengatakan “Organisasi membutuhkan tujuan. Mari kita pikirkan bersama-sama untuk mendefinisikannya”. Saya berpikir bahwa sama seperti tujuan hidup masing-masing individu, di organisasi juga ada tujuan yang ingin diwujudkan melalui organisasi. Yang dibutuhkan adalah bukannya memikirkan tujuannya apa, tetapi harus mendengarkan dengan cermat, tujuannya ingin diwujudkan dalam bentuk seperti apa melalui perusahaan.

Luka batin akan membantu kehidupan selanjutnya

Terakhir, izinkan saya untuk bercerita bahwa “luka” dalam kehidupan adalah anugerah yang besar bagi kehidupan kita selanjutnya. Orang akan mengalami berbagai macam luka dalam menjalani hidup. Tetapi luka tersebut adalah anugerah yang akan membantu dalam mewujudkan tujuan hidup.

Kembali lagi ke cerita saya, saat umur 8 tahun, saya tiba-tiba diabaikan oleh seluruh teman kelas. Ini benar-benar hal yang berat.

Jam istirahat pun saya berada sendirian, sehingga saya memutuskan untuk mengamati teman-teman sekelas. Di situ saya jadi mengerti tentang dinamika hubungan antar manusia. Ternyata anak yang paling membenci saya memiliki perasaan takut, jangan-jangan yang akan dijadikan sasaran berikutnya adalah dirinya. Kemudian anak yang berperan sebagai pemimpin juga harus mempertahankan keberadaannya yang kuat, sehingga sama sekali tidak bahagia.

Pengalaman di zaman sekolah dasar inilah yang menjadi anugerah buat saya. Melalui pengalaman ini, saya jadi memiliki kemampuan untuk mengamati orang, yang nantinya berpengaruh juga dalam penulisan buku 『Organisasi Teal』.

“Luka” menjadi anugerah dan memberikan pengaruh yang baik terhadap kehidupan selanjutnya. Hal tersebut tidak hanya untuk individu, tetapi berlaku juga untuk organisasi.

Oleh karena itu, saya sering mengatakan ini kepada pemimpin yang “ingin merubah organisasinya menjadi organisasi Teal”.

“Cobalah untuk mengingat kembali kehidupan yang telah anda jalani”.

Dari situ anda akan tahu bahwa luka masa lalu pada akhirnya menjadi anugerah dan akan berkaitan dengan tujuan yang ingin diwujudkan melalui anda atau organisasi.

Apakah anda sudah siap untuk menerima anugerah dalam menjalani kehidupan?

Penulis dan penyunting : Toko Suzuki / Dokumentasi : Dan Takahashi

Artikel ini berasal dari Cybozu Style yang dicetak ulang.

https://cybozushiki.cybozu.co.jp/

SNS Share