Perusahaan dan Organisasi

27.Jun.2020 10:20

Jika atasannya terlalu berpikir positif, orang-orang jadi tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya─ Semakin anda merasa bahwa anda adalah “orang yang bisa memberikan hasil yang baik”, anda perlu memiliki kesadaran untuk menunjukkan kelemahan anda.

Apakah anda bisa membeberkan “kelemahan diri anda”?

Mungkin jika saya memperlihatkan kelemahan saya pada anggota tim atau leader, hal tersebut akan menyulitkan mereka… Kemungkinan tidak sedikit orang yang berpikir seperti itu sampai mengalami stres. Mr. Kazuki Hirayama selaku COO dari cotree Inc., memiliki pengalaman yang tidak bisa menunjukkan kelemahannya hingga sempat menderita penyakit mental.

Sedangkan pemimpin yang satunya mungkin memiliki pemikiran “Jangan membawa kelemahan emosi ke tempat kerja”. Beliau adalah Mr. Daichi Konuma selaku Founder organisasi nirlaba Cross Fields, yang akan bercerita tentang masa lalunya yang “selalu memperlakukan orang dengan pikiran yang terlalu positif, sehingga menyebabkan para anggotanya merasa lelah.

Apa yang dibutuhkan agar masing-masing dari anggota tim bisa mencapai hasil dengan cara yang sehat dan menyenangkan, serta tidak hanya memperlihatkan sisi positifnya saja tetapi juga bisa saling menunjukkan kelemahannya? Mereka berdua bersedia untuk berbincang-bincang berdasarkan pengalaman nyata mereka.

Jika waktu itu saya tidak menangis, para anggota pasti sudah mengundurkan diri secepatnya

  • Hirayama

    Apa yang memicu Mr. Konuma bisa memperlihatkan kelemahannya sendiri pada anggota tim?

  • Konuma

    Ketika saya menyadari bahwa “Seluruh anggota tim merasa lelah jika berbicara dengan saya”.

  • Hirayama

    Mereka merasa lelah, ya….

  • Konuma

    Saya adalah tipe orang yang memikirkan segala hal secara positif, sehingga ketika ada anggota yang berkonsultasi empat mata, saya selalu memberikan jawaban yang optimis dan semangat seperti “Masalah itu bisa diatasi dengan cara ini!”.

    Saya berpikir bahwa dengan berkata begitu, masalahnya benar-benar bisa terpecahkan. Tetapi ternyata pada kenyataannya tidak seperti itu. Orang-orang jadi tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya kepada saya.

Mr. Daichi Konuma. Representative Director dari organisasi nirlaba Cross Fields. Setelah lulus dari universitas, bergabung dengan Japan Overseas Cooperation Volunteers dan tinggal di Suriah. Sempat terlibat proyek di bidang microfinance dan pendidikan lingkungan sebelum diterima di McKinsey & Company. Di bulan Mei 2011 menjadi Co-founder dengan mendirikan Cross Fields. Perusahaan ini berperan untuk mengirimkan karyawan perusahaan besar ke negara dengan keadaan darurat (state of emergency) agar mereka bisa memanfaatkan skill dari pekerjaannya untuk berkontribusi dalam menyelesaikan masalah sosial. Selain itu, perusahaan juga mengadakan pendidikan kepemimpinan dan program “Ryushoku (karyawan perusahaan bekerja di negara dengan keadaan darurat untuk waktu tertentu dengan memanfaatkan keahliannya)” yang bisa menjembatani riset pasar dan pengembangan pasar di pasar negara dengan keadaan darurat.

  • Hirayama

    Jadi mereka tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya, karena atasannya terlalu berpikir positif, ya.

  • Konuma

    Betul. Di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, saya menjabat sebagai kapten klub baseball, dan ketika mahasiswa saya ikut klub Lacrosse. Oleh karena itu saya dibesarkan di lingkungan yang sangat kental dengan jiwa olah raga. Consulting firm tempat saya bekerja dulu juga memiliki budaya perusahaan “pebisnis yang macho”.

    Mungkin latar belakang seperti itu yang membuat saya memperlakukan para anggota dengan prasyarat “anda harus bisa melakukan segalanya”.

  • Hirayama

    Tetapi anda tidak sadar bahwa sebenarnya hal tersebut membuat para anggota menjadi lelah, ya?

  • Konuma

    Saya menyadarinya ketika mengadakan training camp bersama seluruh anggota organisasi nirlaba.

    Ketika organisasi tidak berjalan dengan baik, saya mengatakan kepada mereka “Mari kita berdiskusi tentang kekuatan dan kebaikan dari kelompok”. Tetapi salah 1 anggota mengatakan “Untuk hari ini, bagaimana jika kita membahas tentang bagian yang negatif dan bagian yang perlu dirubah?”.

    Ketika semua orang disuruh menyampaikan permasalahan di organisasi dan masalah pribadi, mereka menangis satu per satu sambil menyampaikan hal-hal seperti “Saya masih belum bisa optimal dalam bekerja”, “Tempat kerja yang sebelumnya lebih baik daripada di sini”, dll….

    Di situ untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa hal-hal positif yang saya kira merupakan sebuah kekuatan, sebenarnya adalah merupakan kelemahan juga. Ketika tiba urutan saya untuk berbicara, saya tidak mampu berkata-kata dan menangis di depan mereka. “Semuanya, saya benar-benar minta maaf”. Hanya itu yang dapat saya katakan.

  • Hirayama

    Pengalaman yang luar biasa, ya.

  • Konuma

    Tetapi bisa membeberkan kelemahan diri itulah yang akhirnya menyelamatkan saya. Karena berkat hal tersebut, pola kepemimpinan yang “pokoknya harus berpikir positif” menjadi runtuh dan terbentuklah suasana yang “bisa menerima kelemahan yang dimiliki”.

    Setelah lewat beberapa waktu, anggota yang hadir saat itu ada yang berkata kepada saya “Jika waktu itu Konuma tidak menangis, para anggota pasti sudah mengundurkan diri secepatnya”. Jadi dengan kata lain, air mata waktu itu adalah bukti yang menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya saya mau mendengarkan perasaan para anggota.

  • Hirayama

    Kelihatannya saya bisa mengerti perasaan para anggota yang hadir saat itu.

    Setelah lulus kuliah, perusahaan pertama saya juga banyak dikelilingi oleh orang-orang yang cerdas dengan tipe “pebisnis yang macho”.

Mr. Kazuki Hirayama. COO dari cotree, Inc. Sejak mahasiswa sudah bergabung di perusahaan modal ventura di bidang IT, dan sebagai project leader yang menangani proyek berskala puluhan juta Yen, telah berpengalaman dalam mengurus definisi kebutuhan pengguna, desain bisnis, dan memantau progres. Berdasarkan pengalaman pribadinya, beliau berniat untuk “Membuat layanan yang mendukung perasaan dan kisah orang, serta menghasilkan pertumbuhan produk yang berkelanjutan” dan bergabung dengan cotree di bulan Juni 2018. Beliau menanganai web marketing dan pekerjaan manajemen media, dan mulai tahun 2019 menjabat sebagai COO.

  • Konuma

    Wow, begitu ya.

  • Hirayama

    Saya juga waktu masih sekolah bergabung di club soft tenis, sehingga dibesarkan di lingkungan yang kental dengan jiwa olah raga. Oleh karena itu, saya merasa bisa berkembang di antara orang-orang dengan tipe pebisnis yang macho, dan pada kenyataannya mereka memberi kepercayaan kepada saya untuk mengangani pekerjaan yang penting….

    Tetapi karena kerja saya lambat, saya menjadi lelah mengatasi pekerjaan yang semakin menumpuk karena tidak selesai. Kesalahan dalam bekerja juga semakin banyak, tetapi waktu itu saya adalah tipe orang yang tidak suka bergantung kepada orang lain.

    Akibatnya, ada masa di mana saya menjadi tidak sehat secara mental, sehingga tidak bisa fisik saya tidak bisa bergerak. Tetapi tentu saja saya benar-benar berterima kasih kepada orang-orang yang telah membesarkan saya menjadi seorang profesional di perusahaan sebelumnya.

  • Konuma

    Ternyata ada kejadian seperti itu, ya. Jadi ketika itu Mr. Hirayama tidak melihat adanya kelemahan dari atasan atau rekan kerjanya, ya?

  • Hirayama

    Saya rasa begitu.

    Berdasarkan pengalaman tersebut, saya jadi berpikir bahwa mungkin di dunia ini ada banyak orang yang berada di kondisi yang sama seperti saya. Oleh karena itu, saya bergabung di cotree yang merupakan perusahaan yang berkecimpung di bidang konsultasi online dsb.

    Sebagai perusahaan, bisnis mereka berhadapan dengan “kelemahan orang dan masyarakat”, dan merupakan tim yang senantiasa membicarakan bersama-sama apa yang dibutuhkan untuk menghadapi perasaan yang tidak stabil dari user.

Jika hanya memuji pencapaian hasil, orang akan sulit membeberkan kelemahannya.

  • Konuma

    Menurut anda, apa perbedaan organisasi yang bisa membeberkan kelemahannya dengan yang tidak?

  • Hirayama

    Jika budaya yang hanya memuji pencapaian hasil telah berakar dengan kuat, mungkin orang akan sulit untuk membeberkan kelemahannya. Karena rasanya berat untuk mengakui “ketidakmampuan diri sendiri”.

  • Konuma

    Betul sekali.

  • Hirayama

    Pencapaian target memang penting bagi organisasi apapun. Tetapi di cotree, budayanya adalah “Bergerak menuju target sambil membeberkan kelemahannya”.

    Ketika tidak berjalan dengan lancar, kami bisa menulis “Nggak lancar nih” di Slack, dan ketika badannya tidak sehat pun semua orang bisa membeberkan hal tersebut.

  • Hirayama

    Hasil adalah sesuatu yang tidak pasti dan tidak bisa diketahui oleh siapapun. Dan manusia adalah makhluk yang memiliki banyak sisi, yang berdiri bersamaan dalam hal “baik” maupun “buruk”.

    Jika baik-buruknya jelas, maka sikap untuk “tidak menerima hal yang lain” juga menjadi jelas.

    Saya merasa bahwa di cotree, ada suasana yang bisa menghargai perjuangan kami dalam menuju target dan kesulitan kami ketika tidak berjalan dengan lancar.

  • Konuma

    Karena yang namanya bisnis itu cukup rumit, sehingga kalau tidak disiapkan landasan yang bisa menerima berbagai macam warna, yang tidak hanya terdiri dari hitam atau putih saja, kita tidak bisa maju.

Karena ingin membentuk tim yang bagus, saya melepas tanggung jawab manajerial yang tidak saya kuasai

  • Konuma

    Untuk mempermudah para anggota membeberkan kelemahannya, saya rasa pembentukan organisasi menjadi hal yang sangat penting.

  • Hirayama

    Apa yang anda lakukan untuk mengatasinya?

  • Konuma

    Dalam arti tertentu, saya “melepas” tanggung jawab manajerial. Jadi sekitar 1 tahun yang lalu, saya memasukkan orang dari luar yang gemar mengamati tim, dan meminta bantuannya untuk membentuk organisasi.

    Selama ini meskipun saya sering mengatakan “ingin membangun tim yang baik”, saya tetap menyukai bisnis dan tidak bisa menyediakan waktu yang cukup. Keputusan untuk mempekerjakan manajer khusus yang bertugas membentuk organisasi, membuat semua orang berpikir bahwa “Konuma benar-benar ingin membuat tim menjadi lebih baik”, atau “Dengan hadirnya orang baru, mungkin bisa merubah tim”.

  • Hirayama

    Bagus sekali! Dengan mempercayakannya kepada orang lain, anda sudah membeberkan kelemahan anda.

  • Konuma

    Untuk saat ini, di dalam organisasi telah muncul prasyarat “hal yang penting adalah bisa saling memahami kekuatan dan kelemahan”, sehingga komunikasinya menjadi lebih terbuka.

    Oh iya, saya ada cerita yang menarik terkait bulan madu.

  • Hirayama

    Bulan madu?

  • Konuma

    Jadi, waktu itu ada salah satu anggota yang menikah. Dia ingin berbulan madu untuk waktu yang agak lama. Tetapi karena banyak pekerjaan yang harus dilakukan, sulit untuk mengajukan cuti jangka panjang.

    Rekan-rekan di sekitarnya yang mengetahui permasalahan tersebut saling berkomunikasi dan membuat “Proyek untuk mengantarkan rekan kerja ke bulan madu yang bahagia dengan perasaan yang tulus”. Mereka bekerja sama untuk mengerjakan pekerjaannya dengan cepat, sehingga dia bisa pergi berbulan madu selama 2 minggu.

  • Hirayama

    Wah, indah sekali.

  • Konuma

    Sebenarnya serangkaian kejadian tersebut berjalan tanpa sepengetahuan saya. Dan dengan adanya kejadian tersebut membuat saya terharu dan merasa bahwa “OS (Operating System) organisasi sudah ter-update….!”

  • Hirayama

    Apakah ada perlakuan khusus agar komunikasi antar anggota menjadi lebih aktif?

  • Konuma

    Di Cross Fields, kami mengimplementasikan “Sistem unit”.

    Jika tim semakin besar, maka anggota yang ikut dalam rapat secara keseluruhan juga akan bertambah. Jika pesertanya banyak, waktunya akan dibatasi, dan informasi yang dibagikan cenderung mengarah pada hal-hal yang “baik” dan “optimis”. Oleh karena itu, kami membaginya membagi 4 unit yang terdiri dari 3-4orang, agar masing-masing orang bisa mengutarakan banyak hal.

    Untuk episode bulan madu pun, mungkin tidak bisa disampaikan jika harus berhadapan dengan 10 orang. Tetapi karena 4 orang, dia bisa menyampaikannya.

Organisasi tidak bisa berjalan jika “bebas = bisa melakukan apapun”

  • Konuma

    Walaupun begitu, sejauh mana kita bisa saling memperlihatkan kelemahan dan harus menerima kelemahan para anggota sampai sejauh mana, menjadi hal yang sulit.

    Meskipun bisa memenuhi permintaan anggota yang menginginkan “kebebasan” dalam kondisi yang tidak ada aturan organisasi dan tacit knowledge, jika “bebas = bisa melakukan apapun”, tim mungkin tidak akan berjalan dengan baik. Mungkin akan ada orang yang mengatakan ketidakpuasan seperti “Saya masuk ke perusahaan ini karena katanya merupakan organisasi yang baik. Tetapi ternyata sama sekali tidak baik untuk saya!”

  • Hirayama

    Saya bisa mengerti kekhawatiran tersebut…..

    Di cotree sendiri, kami menghapus kekhawatiran tersebut dengan fokus pada keputusan yang diambil di tahapan seleksi dan rekrutmen. Kami akan mengamati dengan cermat tingkat kecocokannya dengan visi “membentuk masyarakat yang terhubung dengan kebaikan”.

    Kami juga akan memutuskan apakah orang tersebut dapat mempersonifikasikan nilai-nilai untuk mewujudkan visi. Meskipun bisa memikirkan kelemahan orang, tetapi jika pola pikirnya adalah “saya ingin dilindungi oleh perusahaan ini selamanya”, mungkin tidak cocok berada di cotree.

  • Konuma

    Karena kalau dipertahankan, nanti dia benar-benar akan merasa “Perusahaan ini sama sekali tidak baik untuk saya!” ya.

    Di Cross Field, seluruh anggota diminta untuk membaca buku yang ditulis oleh CEO Cybozu, Mr. Hisashi Aono yang berjudul 『Hanya Memikirkan tentang Tim 』

  • Hirayama

    Wow, begitu ya.

  • Konuma

    Saya merasa bahwa pola pikir yang disampaikan dalam buku tentang “kebebasan itu ada karena adanya kedisiplinan” dan “tanggung jawab untuk menjelaskan dan tanggung jawab untuk bertanya” cocok dengan Cross Fields.

  • Konuma

    Kami menyamakan sudut pandang mengenai keberadaan tim dengan membaca buku dan berbagi kesan dari buku tersebut. Karena dengan adanya pembahasan topik yang sama, pembicaraan juga akan lebih mudah untuk dimulai.

  • Hirayama

    Cara yang menarik, ya.

    Ngomong-ngomong, di cotree juga seluruh anggota inti membaca buku Erich S. Fromm yang berjudul “The Art Of Loving : Seni Mencintai”. Jadi, kita bisa menyamakan sudut pandang dari membaca 1 buku, ya.

Ini bukan zamannya “yang penting optimis”. Yang penting adalah bagaimana caranya menghadapi kelemahan orang lain dan diri sendiri

  • Konuma

    Saya berpikir bahwa mungkin kejadian seperti yang saya alami banyak terjadi di dalam organisasi. Jadi, saat ini kita sudah tidak bisa maju hanya dengan “optimisme” dan “kekuatan”.

  • Hirayama

    Mungkin hal tersebut juga berlaku untuk pengembangan produk, ya.

    Alasan dipilih oleh user tidak hanya karena “optimisme”, tetapi berhubungan juga dengan perasaan yang lebih rumit seperti “suka”, “tidak suka”, “senang”,dan “sedih”.

  • Konuma

    Dengan semakin beragamnya poros penilaian, tidak cukup hanya dengan “yang penting optimis”.

    Sebenarnya semua orang memiliki permasalahan di dalam organisasi, tetapi tidak bisa mengutarakannya.

    Di cotree juga diadakan coaching perorangan kan, ya. Pada kenyataannya, permasalahan seperti apa yang kalian hadapi di lokasi?

  • Hirayama

    Karena sekarang ini dikatakan sebagai zaman yang individual, saya jadi merasa sulit untuk menemukan role model untuk dijadikan contoh dalam memberikan gambaran “jika anda seperti ini, maka bisa berhasil”.

    Tetapi di sisi lain, contoh orang-orang yang sukses juga lebih mudah terlihat melalui media sosial, sehingga kesempatan untuk berpikir “mengapa saya tidak bisa seperti itu, ya” menjadi lebih banyak.

    Di zaman ini orang jadi sering membandingkan diri dengan orang lain. Oleh karena itu, saya merasakan pentingnya melakukan coaching tentang “waktu untuk memikirkan diri sendiri”.

  • Konuma

    Sebenarnya Cross Fields juga menjalankan coaching dalam bisnisnya. Semua anggota memiliki sertifikat.

    Yang penting dalam coaching adalah bagaimana caranya menghadapi kelemahan diri sendiri dan orang lain. Dan saya merasa bahwa pembicaraan tersebut bisa menjadi dasar dalam membentuk organisasi.

Dengan membuka diri kepada dunia kecil yang berada di sekeliling kita, mungkin pemandangannya akan terlihat berbeda

  • Hirayama

    Menurut saya, di berbagai macam lokasi kerja pasti ada orang yang merasa stress karena beranggapan bahwa “jika saya memperlihatkan kelemahan saya, akan menyulitkan orang di sekeliling saya”

  • Konuma

    Saya setuju dengan hal tersebut. Yang penting adalah proses untuk menyadari bahwa “mungkin para anggota belum bisa membeberkan kelemahannya”, ya.

    Saya benar-benar merasakan hal tersebut ketika mengadakan training camp dengan para anggota, sehingga menjadi berpikir “apa yang selama ini telah saya lakukan?”. Mungkin kesempatan untuk menyadari hal tersebut hanya datang setelah mendengarkan suara para anggota.

    Orang yang bisa menyadarinya hanya dengan membaca artikel ini berarti masih baik-baik saja. Tetapi semakin orang tersebut memiliki harga diri yang kuat dan merasa “saya bisa memberikan hasil yang baik” seperti saya, kelihatannya orang tersebut perlu meningkatkan kesadarannya agar mau menunjukkan kelemahannya.

  • Konuma

    Untuk middle manajemen, bisa membuat misi, visi, dan value di departemen atau timnya sendiri, dan membangun budaya yang bisa saling menunjukkan kelemahannya.

  • Hirayama

    Ini menarik sekali.

  • Konuma

    Kalau untuk perusahaan besar, banyak kondisi di mana semua orang tidak bisa mengatakan filosofi keseluruhan perusahaan. Oleh karena itu, ini adalah kesempatan untuk membuat tim yang berorientasi pada misi, dengan kekuatan semua orang.

    Mungkin manajernya akan marah dan mengatakan “Apa yang kalian lakukan”, tetapi bisa jadi presiden direktur akan mengatakan “Ini bagus juga!”.

    Karena di zaman yang akan datang, di bisnis apapun akan dituntut manajemen tim yang bisa menghadapi kelemahan masing-masing orang.

  • Hirayama

    Sebaliknya dari sisi anggota, orang yang memiliki masalah karena “tidak bisa membeberkan kelemahannya pada tim”, lebih baik menyampaikan kelemahannya kepada orang yang paling bisa dipercaya, seperti atasan, rekan kerja, orang di luar perusahaan atau siapapun yang bisa dipercaya.

    Kalau mau merubah perusahaan memang sangat berat. Oleh karena itu, jika saat ini tidak menyenangkan, cobalah untuk berpikir apa yang perlu dilakukan agar merasa senang. Seletah itu jika merasa “ingin merubah perusahaan”, silakan menerapkannya dalam tindakan.

SNS Share